Jumat, 16 April 2010

kodam

Apa ada akibat bila kita
mengamalkan berbagai ajian, seperti
pelet pengasihan, susuk,
menggunakan jimat dan benda-
benda bertuah bagi hidup kita? Apa
sesungguhnya khodam itu?
Pertanyaan yang sering diajukan
pembaca ini sepertinya sederhana.
Namun jawabannya tidak sederhana
dan saya merasa cukup rumit untuk
menjelaskannya dengan bahasa
yang mudah. Sebab akan menjurus
pada hakikat dunia gaib yang susah
dipahami. Namun akan coba
disederhanakan agar bisa diterima
oleh kalangan awam. Kitab suci
menjelaskan bahwa pengetahuan
manusia atas DUNIA GAIB itu sangat
sedikit dan yang mampu
mengenalinya hanya KESADARAN
RUH (DIRI SEJATI/AKU SEJATI) kita.
Namun meski pengetahuan tentang
ruh ini sangat sedikit tidak berarti
manusia tidak boleh tahu apa-apa
tentang seluk beluk dunia gaib ini.
Alat apa pada diri manusia yang
mampu mengenal dunia gaib?
Apakah akal, mata, telinga, kulit,
lidah? Tidak. Jawabnya adalah RUH.
Kenapa manusia cuma diberi sedikit
pengetahuan oleh Tuhan tentang
Ruh? Itu karena Tuhan tidak ingin
menyusahkan manusia. Tuhan
Maha Tahu bahwa manusia
biasanya hanya belajar dengan
menggunakan akal saja. Padahal,
akal/rasio tidak akan mampu
membeber sesuatu yang gaib.
Kecuali merekayasa dan
mengkonstruksikan dugaan-dugaan
itu ke dalam sebuah teori.
Kecenderungan peradaban saat ini
yang dibangun dengan cara berpikir
Barat memang akhirnya membuat
perkembangan ruhani menjadi
mandeg dan mangkrak. Akhirnya,
orang meninggalkan aspek ruhani
yang metafisis. Diganti dengan
aspek gaya hidup pragmatik dan
hedonistik. Maka peradaban saat ini
disebut juga dengan peradaban post
metafisik. Apa yang ada diluar peta
pemahaman akal ditolak mentah-
mentah, padahal bukankah akal itu
hakekatnya adalah metafisik juga?
Coba kita pikirkan hal sederhana
sebagai berikut: Bagaimana jari
tangan kita bergerak? Itu karena
perintah dari pikiran untuk
mengerakkan jari tangan.
Bagaimana perintah pikiran bisa
dibaca dan diterjemahkan oleh jari
tangan kemudian dituruti kehendak
pikiran itu? Dalam khasanah Ilmu
Neurologi kira diberitahu bahwa
perintah dari otak kemudian dibawa
oleh neurotrasmitter yakni
semacam energi biolistrik yang
mampu menggerakkan syaraf-
syaraf jari tangan. Tapi tetap
perintah otak itu sumbernya dari
mana? Nah, kita akhirnya paham
bahwa yang fisik itu dasarnya juga
metafisik.
Seperti juga seutas kabel yang dialiri
energi listrik. Energi listrik tentu saja
tidak bisa dilihat mata dan energi
listrik bisa diketahui keberadaannya
bila dipegang dan kita akhirnya
mengalami “kesetrum”. Pada
kesempatan kali ini, ada baiknya kita
tanggalkan dulu untuk sementara
akal kita. Sebab yang akan kita bahas
adalah RUH (DIRI SEJATI/AKU
SEJATI) YANG MERUPAKAN BAGIAN
PALING INTI SUBSTANSI MANUSIA.
Karena ruh itu tidak bisa dilihat,
maka kita perlu akan menggunakan
pengalaman “kesetrum” tersebut.
Ruh akan nampak jelas saat
seseorang itu meninggal. Apa yang
terjadi saat orang dinyatakan denyut
nadinya tidak lagi bergerak? Maka,
orang itu oleh dokter dinyatakan
telah MATI. Apa yang terjadi saat
jasad fisik kita mati? Yaitu ruh akan
keluar dari fisik dan dia ingat semua
perbuatan yang pernah dilakukan
semasa hidup. Perbuatan yang
pernah dilakukan itu tampak seperti
album foto panorama yang berjejer
bergerak melewati kalbunya. Atau
bahkan tampak seperti sebuah film
otobiografi tentang diri sendiri.
Ingatan yang jadi tajam itu
diperlukan karena rekaman film
tindakan semasa hidup itu memang
ditunggu oleh ruhnya DI ALAM
ASTRAL yaitu alam perpindahan dari
alam bumi/jagad fisik sekarang ini
ke ALAM ALUS –ALAM
KELANGGENGAN– ALAM BARZAKH.
Untuk mempermudah pemahaman,
maka alam berdimensi bumi ini kita
bagi menjadi tiga: ALAM FISIK atau
ALAM BUMI, ALAM ASTRAL: alam
antara fisik dan alam halus sifatnya
sudah gaib. ALAM HALUS: ALAM
GAIB di bumi dibagi menjadi ALAM
BAIK dan ALAM BURUK
ALAM ASTRAL adalah tempat
singgah badan halus manusia sudah
meninggal namun masih melekat
pada ruhnya. Alam astral juga
merupakan alam HUKUM
PANTULAN berlaku. Yaitu alam
bentukan dari perbuatan dan pikiran
manusia yang memantul kemudian
membentuk energi. SAAT
SESEORANG MENJALANI LAKU
UNTUK MENDAPATKAN AJIAN-
AJIAN, MEMBACA MANTRA ATAU
MENGISI KEHENDAKNYA PADA
BENDA DALAM BENTUK SUSUK,
JIMAT ATAU TOSAN AJI (BENDA-
BENDA BERTUAH) MAKA
SESUNGGUHNYA ENERGI
PIKIRANNYA TERPUSAT DAN
MEMBENTUK “BENDA/MATERI” DI
ALAM ASTRAL. INILAH YANG
DIMAKSUD DENGAN KHODAM!!!! Jadi
Khodam bukan entitas makhluk
halus tersendiri. Namun makhluk
halus yang dibentuk oleh kehendak
kita.
DI ALAM ASTRAL INI PULA TEMPAT
KEBERADAAN MAKHLUK HALUS
SEHINGGA SAAT SESEORANG
BERNEGOSIASI/BERDISKUSI
DENGAN MAKHLUK HALUS MAKA
YANG TERJADI ADALAH
SINKRONISASI KEHENDAK ANTARA
MANUSIA DAN MAKHLUK HALUS DI
ALAM ASTRAL.
Alam astral ini sama persis seperti
alam fisik. Itu karena alam astral ini
adalah ALAM TIRUAN DARI ALAM
FISIK. Seperti antara kita dengan
bayangan kita di cermin. Sehingga
apapun perbuatan kita, apakah itu
baik atau buruk akan memantul di
alam astral dan ada akibatnya cepat
atau lambat. Setiap kegiatan dan
kehendak yang kita pantulkan itu
menghasilkan pantulan di alam
astral bahkan hingga jagad halus.
Bedanya, bila di alam fisik kita
sekarang bisa merasakan panas
karena cahaya matahari maka di
alam astral cahaya matahari tidak
memberikan panas pada kita. Di
alam astral juga tidak ada pergantian
siang dan malam.
Alam Gaib terbagi menjadi dua yaitu
ALAM BAIK dan ALAM BURUK.
Kedua alam ini masih ada di bumi.
Di antara dua alam yang mengapit
bumi dari atas dan dari bawah itu
ada alam astral. Digambarkan
dengan sederhana sebagai berikut:
ALAM GAIB BERDIMENSI DUNIA/
BUMI
(1). ALAM GAIB BAIK. Berada di atas
bumi. terdiri dari tujuh sap/tingkat
dari bawah ke atas: 7
ANDRATASAMIRA, 6 KALASUTRA,
5 MAHARAUNNAWA, 4 RAUNAWA,
3 AMBARISHA, 2 MAHAKALA, 1
LOKANTARIKA
(2). ALAM ANTARA atau ALAM
ASTRAL: alam pergantian dari alam
fisik ke alam gaib. Alam ini dihuni
oleh empat jenis makhluk halus
namun jumlahnya tidak terhingga:
keempat jenis itu adalah JIN API
(Salamandala), JIN UDARA
(Gandarwa), JIN AIR (Apsara) dan
JIN TANAH (Yaksa).
(3). ALAM GAIB BURUK berada di
dalam tanah/bumi. Alam ini terdiri
dari atas ke bawah: 1 JAMBU, 2
KASHA, 3 PLAKSHA, 4 SHAMALIA,
5 KRAUNTSHA, 6 SHAKA, 7
PUSKHARA. Di alam GAIB BURUK, di
tingkat 2,3,4 masih terasa cahaya
matahari. Namun tingkat 5,6,7
selalu dalam gelap tanpa cahaya. Ini
beda bila ruh manusia yang
meninggal di alam BAIK. Di alam
BAIK ini, semua lapisan mendapat
cahaya penerangan. Ruh manusia
mendapat tempat yang baik dan
menyenangkan. Ini ruh manusia
yang semasa hidupnya berbuat
baik.
Ruh manusia saat berada di alam
astral tergantung pada
keikhlasannya untuk meninggalkan
dunia. Bila dia ikhlas karena
kemelekatan terhadap dunia ini
sangat ringan, maka ruhnya akan
naik ke alam BAIK. Sebaliknya, bila
hasrat dan keinginan manusia
terhadap dunia ini meluap-luap,
kemelekatannya terhadap dunia
begitu tinggi dan dia belum ikhlas
meninggal dunia maka ruhnya akan
sangat berat hingga masuk ke alam
gaib alam BURUK.
ALAM GAIB BAIK, berada di langit.
Langit dibagi ke dalam dua bagian
utama yaitu langit luar dan langit
dalam. Langit luar masih ada
bentuknya (Rupa), sementara langit
dalam tidak berbentuk (Arupa/ALAM
SUWUNG). Langit yang masih ada
bentuknya itu dihuni oleh para
malaikat sementara langit tidak
bebentuk itu dihuni oleh para Nabi,
Utusan Tuhan dan juga manusia-
manusia terpilih yang dikasihi
Tuhan. Di langit berbentuk ini ada
Ruh tertinggi yang mengatur yang
alam semesta fisik dan metafisik.
Sementara di langit yang tanpa
bentuk ada juga ruh tertinggi yang
mengendalikan semuanya.
ALAM GAIB SEJATI BERDIMENSI
AKHIRAT
Ada lagi alam gaib setelah dimensi
bumi habis. Yaitu selesainya
pergelaran alam semesta fisik dan
metafisik bumi dan diganti alam gaib
berdimensi akhirat. Di alam gaib
akhirat ini adalah pantulan dari alam
gaib berdimensi bumi. Ada Surga/
BAIK dan ada Neraka/BURUK juga.
Ruh Manusia dihisab lagi kemudian
dimasukkan ke dua tempat gaib
terakhir yang abadi. Tidak ada lagi
hukum sebab akibat/sunatullah.
ALAM GAIB AKHIRAT berada di
kegaiban “langit.” Langit dibagi ke
dalam dua bagian utama yaitu langit
luar dan langit dalam. Langit luar
masih ada bentuknya (Rupa),
sementara langit dalam tidak
berbentuk (Arupa, ALAM SUWUNG).
Langit yang masih ada bentuknya
itu dihuni oleh para malaikat
sementara langit tidak bebentuk itu
dihuni oleh para Nabi, Utusan Tuhan
dan juga manusia-manusia terpilih
yang dikasihi Tuhan. Di langit
berbentuk ini ada Ruh tertinggi yang
mengatur yang alam semesta fisik
dan metafisik. Sementara di langit
yang tanpa bentuk ada juga ruh
tertinggi yang mengendalikan
semuanya.
KESIMPULAN:
Dari penjelasan di atas, kita menjadi
tahu bahwa di alam fisik/alam bumi
sekarang ini tidak ada yang bisa
lepas dari HUKUM SEBAB AKIBAT.
Termasuk juga saat ruh kita berada
di ALAM ASTRAL yang merupakan
adalah tempat singgah badan halus
manusia /ruh manusia. Di alam
astral berlaku HUKUM PANTULAN.
Saat seseorang menjalani laku untuk
mendapatkan ajian-ajian, membaca
mantra atau mengisi kehendaknya
pada benda dalam bentuk susuk,
jimat atau tosan aji (benda-benda
bertuah) maka sesungguhnya
energi pikirannya terpusat dan
membentuk “benda/materi” di alam
astral yang disebut dengan
KHODAM. Di alam astral ini pula
tempat keberadaan makhluk halus
tingkat rendah sehingga saat
seseorang bernegosiasi/berdiskusi
dengan makhluk halus maka yang
terjadi adalah sinkronisasi kehendak
antara manusia dan makhluk halus
di alam astral. Dan SINKRONISASI
KEHENDAK INI DIHARAMKAN OLEH
AGAMA. Sebab, kebanyakan
bertentangan dengan hukum sebab
akibat, hukum karma atau
sunatullah. Ada konsekuensi atau
akibat bila kita suka bermain ajian,
menggunakan susuk, jimat atau
tosan aji? Jawabnya mereka akan
susah meninggal dunia. Jangan
heran bila orang yang memasang
susuk di tubuhnya sulit mati. Begitu
juga dengan mereka yang punya
ajian di tubuhnya. Kenapa? Sebab
RUH KITA MASIH MEMILIKI
KEMELEKATAN KEPADA ALAM
NYATA/ALAM BUMI. Apa yang
terjadi bila orang sulit mati? Dia akan
sangat tersiksa karena jasad fisiknya
sudah tidak berdaya dan tubuh ini
hanya bertahan hidup secara
singkat, sementara ruh ingin
terbang menuju alam gaib halus.
Ruh bisa masuk ke alam gaib halus
karena tidak melekat di dunia fisik/
bumi. Ruh yang masih punya
hasrat dan keinginan duniawi bisa
dipastikan akan menangis kesakitan.
Mereka membutuhkan doa agar
Tuhan berkenan mengangkat ruh ini
lepas menuju alam gaib halus.
Maka, akan lebih bijaksana bila kita
semua mempertimbangkan kembali
dampak baik buruk, positif
negatifnya memiliki ilmu-ilmu
supranatural tersebut. Bila dirasa
tidak/kurang bermanfaat jangan
ragu untuk meninggalkan berbagai
ajian bila kita “merasa” tidak
membutuhkannya. Waspadai
dengan adanya niat, kehendak,
pikiran dan amalan buruk yang kita
lakukan sehari-hari. Itu semua akan
mempersulit kita untuk menembus
dimensi gaib yang halus untuk
bersimpuh di “kaki” TUHAN YANG
MAHA HALUS.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar